Take a fresh look at your lifestyle.

PENGERTIAN DASAR DAN ARTI PENTING DARI PERJANJIAN BAGI LEGAL DRAFTER

1

Pengertian dan pemahaman tentang hukum perjanjian sangat penting bagi para Legal Drafter atau para perancang dan penyusun naskah perjanjian atau kontrak, terutama bagi para Legal Drafter yang bukan berlatar belakang dari pendidikan hukum. Pengertian dan pemahaman tentang hukum perjanjian dapat mengurangi kemungkinan terjadinya kesalahan, ketidaklengkapan dan ketidakjelasan dalam merancang isi maupun dalam menyusun dan menulis naskah perjanjian sehingga dapat terhindar kemungkinan terjadinya cacat hukum atau batal demi hukum maupun sengketa atau perselisihan hukum dikemudian hari.

Untuk dapat mengerti dan memahami tentang hukum perjanjian, maka kita perlu mengetahui tentang pengertian atau defenisi dari perjanjian itu sendiri. Dalam berbagai tulisan, buku-buku, makalah atau tulisan ilmiah lainnya, pengertian “perjanjian” dan “kontrak” terkadang dibedakan. Kata “perjanjian” sering dianggap mempunyai pengertian yang lebih luas dari “kontrak”, oleh karena “kontrak” lebih dikonotasikan sebagai suatu perjanjian tertulis atau sebagai medianya suatu perjanjian yang dibuat secara tertulis.

You will never change your life until you change something you do daily. The secret of your success is found in your daily routine.

Kesuma Putra Indonesian Author

Pemahaman sebagaimana tersebut di atas antara lain terbentuk oleh karena pengertian “perjanjian” yang diberikan dalam Pasal 1313 KUHPerdata yang menyebutkan bahwa suatu perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang atau lebih. Dari bunyi pasal tersebut, dapat kita lihat bahwa tidak terdapat kata “yang dibuat secara tertulis” sehingga pengertian perjanjian mencakup kesepakatan atau perikatan yang dibuat baik secara lisan maupun secara tertulis.

Sedangkan “kontrak” dalam Burgerlijk Wetboek (BW), disebut overeenkomst yang bila diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia berarti “perjanjian”.

Untuk menyamakan persepsi dalam tulisan ini, pengertian perjanjian dan kontrak tidak dibedakan dan karena topic dari tulisan ini adalah perancangan perjanjian, maka pengertian perjanjian menjadi lebih spesifik yaitu sebagai suatu media perikatan yang sengaja dibuat secara tertulis, sebagai alat bukti bagi para pihak yang berkepentingan. Atau dengan kata lain, perjanjian adalah kontrak itu sendiri.

Dari uraian tersebut atau definisi tersebut di atas, lebih lanjut dapat dikemukakan bahwa:

  • Kontrak adalah merupakan media atau piranti yang dapat menunjukkan apakah suatu perjanjian telah dibuat sesuai dengan syarat-syarat sahnya perjanjian.
  • Perjanjian sengaja dibuat secara tertulis untuk dapat saling memantau di antara para pihak, apakah prestasi telah dijalankan atau bahkan telah terjadi wanprestasi.
  • Perjanjian sengaja dibuat sebagai suatu alat bukti bagi mereka yang berkepentingan, sehingga apabila ada pihak yang dirugikan maka ia tekah memiliki alat bukti untuk mengajukan suatu tuntutan ganti rugi kepada pihak lainnya.

 

Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, terlihat arti pentingnya pembuatan suatu perjanjian atau kontrak bagi para pihak yang terlibat di dalamnya, bahkan bagi pihak lainnya. Di samping itu, perjanjian atau kontrak juga mempunyai arti penting dalam hal:

  • Untuk mengetahui perikatan apa yang dilakukan dan kapan serta dimana perjanjian tersebut dilakukan.
  • Untuk mengetahui secara jelas siapa yang saling mengikatkan diri dalam perjanjian dimaksud.
  • Untuk mengetahui hak dan kewajiban para pihak, apa yang harus, apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan oleh para pihak.
  • Untuk mengetahui syarat-syarat berlakunya perjanjian tersebut.
  • Untuk mengetahui cara-cara yang dipilih untuk menyelesaikan perselisihan dan pilihan domisili hukum yang dipilih bila terjadi perselisihan antara para pihak.
  • Untuk mengetahui kapan berakhirnya kontrak, atau hal-hal apa saja yang mengakibatkan berakhirnya perjanjian tersebut.
  • Sebagai alat untuk memantau bagi para pihak, apakah pihak lawan masing-masing telah menunaikan prestasinya atau belum, atau bahkan malah telah melakukan suatu wanprestasi.
  • Sebagai alat bukti bagi para pihak apabila terjadi perselisihan di kemudian hari, seperti apabila terjadi apabila terjadi wanprestasi oleh salah satu pihak ketiga yang mungkin keberatan dengan suatu perjanjian dan mengharuskan kedua belah pihak untuk membuktikan hal-hal yang berkaitan dengan perjanjian dimaksud.

Leave A Reply

Your email address will not be published.